Langsung ke konten utama

Kreatifitas Buah Hati dalam Kolase

Membuat kolase sangat menyenangkan. Kolase adalah komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan, seperti kertas, kain, kaca, logam, kayu, dan lainnya yang ditempelkan pada permukaan gambar. Kolase merupakan karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan berbagai macam paduan bahan. (Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kolase) Kolase yang biasa Bunda temui biasanya dibuat dengan menempel-nempel potongan kertas warna-warni, biji-bijian, kerang, kulit telur, daun-daun kering, pita, manik-manik & lain. Bahan-bahan yang ingin ditempelkan tergantung dari kreatifitas Bunda & si Kecil. Seru sekali ya Bunda. Kolase yang biasa dibuat biasanya dari potongan kertas warna-warni. Hal ini dikarenakan bahan yang diperlukan mudah diperolah. Bahannya cukup kertas warna-warni dan lem kertas. Kertas warna-warni cukup dipotong kecil-kecil sesuai selera. Tempelkan potongan kertas warna-warni dengan lem pada pola yang diinginkan. Yeay, yuk berkreasi.
Untuk kolase dari biji-bijian lebih terlihat unik karena nampak 3D. Kolase biji-bijian biasanya terdiri dari beras putih, beras merah, kedelai, kacang hijau, kacang merah, kedelai hitam & jagung. Kebetulan bahan-bahan tersebut pasti tersedia di rumah. Membuat kolase biji-bijian pun menyenangkan karena si Kecil dapat bermain sambil belajar. Belajar mengenal nama, bentuk serta manfaat dari biji-bijian yang digunakan. Menyenangkan sekali 😊😄😃😁. Ibarat peribahasa "Sambil menyelam minum Air". Si kecil happy bisa bermain sambil belajar dech. Cara membuat kolase biji-bijian ini pun sangat mudah. Biarkan si kecil membuat pola yang diinginkan pada kertas yang agak tebal atau bisa gunakan papan ya Bunda.Kemudian berikan lem putih atau lem kayu ke media yang sudah disiapkan. Jika menggunakan lem kertas biji-bijian tidak akan menempel pada media gambar. Kemudian susun biji-bijiannya sesuai kreatifitas dan imajinasi si kecil. Yuk dicoba bunda.
Kegiatan ini pun bisa lebih menjalin kedekatan bunda & si kecil lho. Selain itu si Kecil juga diajarkan untuk mengasah otak dan berpikir kreatif sesuai dengan imajinasi yang mereka miliki. Lewat bentuk-bentuk yang dibuatnya dan bagaimana agar media tersebut dapat penuh dengan biji-bijian namun tetap terlihat cantik serta rapi. Si kecil belajar untuk teliti, sabar & mengekspresikan ide maupun emosi yang dimilikinya. Tak ketinggalan pula, untuk melahirkan kreativitas. Si kecil akan sekaligus mengasah konsentrasi. Di masa depan, semua skill yang Si kecil peroleh ini sangat bermanfaat untuk survive dalam kehidupan sehari-hari. Si kecil akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bisa diandalkan. Ada yang mau coba? Atau bermain sambil belajar bersama mba Rasti? #MombassadorSGMEksplor #SGMEksplor #GenerasiMaju

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asah Motorik Halus Sejak Dini

Perkembangan gerak motorik anak terus berkembang secara signifikan. Gerakan motorik terbagi menjadi tiga, yaitu gerakan refleks, motorik kasar, dan motorik halus. Pada dasarnya, gerakan refleks dan motorik kasar akan berkembang dengan sendirinya melalui aktivitas gerak anak sehari-hari. Contohnya adalah aktivitas merangkak, meraba, berjalan, melompatdan berbagai gerakan lainnya. Melatih gerakan motorik halus pada anak membutuhkan kesabaran, konsentrasi, serta sinkronisasi otak, saraf dan gerak tubuh. Melalui permainan-permainan sederhana berikut ini motorik halus si kecil akan terasah. Permainan apa sajakah itu? Mungkin beberapa permainan sempat saya post sebelumnya. 1. Bermain pasir Permaianan ini bisa dimulai dengan perlahan-lahan ajak si kecil mengumpulkan pasir di ember atau tempat yang disediakan. Mencetak pasir mengikuti bentuk tertentu seperti istana pasir atau benteng kerajaan. Kegiatan ini dapat merangsang gerak motorik halus dan juga melatih anak untuk berimajinasi...

Mengajarkan Tanggung Jawab pada Si Kecil

Mengajarkan tanggung jawab pada anak memang sebaiknya dimulai sejak dini. Mengajarkan tanggung jawab pada anak pun ada batas usianya. Ayah dan Bunda dapat memulainya apabila anak bila sudah memahami sebab akibat dan bisa melakukan perintah sederhana. Usia ideal untuk mengajarkan tanggung jawab adalah di usia 3 tahun, meski ada juga yang memulainya lebih awal lagi. Namun hal ini kembali lagi ke Ayah Bunda, karena kitalah yang memahami anak masing-masing. Ayah Bunda lah yang paling tahu kapan si Kecil sudah siap diajarkan untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab sebaiknya dipandang sebagai sebuah kebiasaan baik yang bisa dimiliki setiap orang. Namun, ‘kebiasaan baik’ itu tidak bisa tumbuh dengan sendirinya jika tidak ditanam, dipupuk dan dipelihara. Beberapa cara untuk mengajarkan tanggung jawab pada anak, yaitu: 1. Menjadi contoh dan konsisten Jangan pernah bosan mengatakan bahwa Ayah Bunda adalah contoh dan panutan bagi si Kecil. Jadi, Ayah Bunda pun harus menjadi pribadi...